Pengertian Konfeksi
Konfeksi adalah pakaian
yang dibuat secara massal. Konfeksi adalah industri kecil skala rumah tangga
yang merupakan tempat pembuatan pakaian jadi seperti kaus, kemeja,
celana,
jaket
dan sebagainya. Sebuah konfeksi biasanya hanya memiliki tidak lebih dari 20
buah mesin jahit
dan satu mesin obras.
Keberadaan konfeksi sangat
menunjang terhadap kemajuan industri pakaian jadi di Indonesia,
karena selain mengerjakan pembuatan pakaian dari pemesan untuk pasar lokal,
konfeksi juga bisa menerima mengejakan maklun yaitu mengejakan
proses jahit sebuah pabrik garmen dalam pembuatan
pakaian jadi skala besar untuk pasar lokal maupun pasar ekspor.
Pada kenyataan nya saat ini
terjadi kekeliruan penyebutan istilah oleh sebagian masyarakat indonesia,
dimana istilah konfeksi banyak disebut dengan istilah konveksi. Istilah ini
banyak digunakan baik oleh pelaku bisnis maupun oleh pemesan.
Perbutulan adalah kelurahan di kecamatan Sumber,
Cirebon, Jawa Barat,
Indonesia.
Sebelum Sumber menjadi ibukota Kabupaten Cirebon,
Perbutulan berstatus desa, namun sejak Sumber menjadi ibukota Kabupaten
Cirebon, Perbutulan berstatus menjadi Kelurahan. Perbutulan mungkin merupakan
kelurahan/desa terkecil di Kabupaten Cirebon. Di sebelah barat berbatasan
dengan Desa Kaliwadas, lalu berbatasan dengan Desa Watubelah (utara), Kelurahan
Sumber (selatan), dan Desa Gegunung (timur). Dengan Gegunung dipisahkan oleh
Sungai Cipager, yang berhulu di Gunung Ciremai. Perbutulan dibelah oleh jalan
raya yang menghubungkan Sumber dengan Plered, Kecamatan Weru. Sebelum ada jalan
tol Palimanan-Kanci, Plered termasuk jalur Pantura Jawa. Nah, di jalan yang
membentang dari selatan ke utara itu, jika kita berdiri di perbatasan
Perbutulan-Sumber akan bisa dilihat dari perbatasan Perbutulan-Watubelah.
Betapa kecilnya Perbutulan.
Menurut hikayat, kata Perbutulan berasal dari kata Butul
yang artinya 'lolos'. Hal ini dikaitkan dengan cerita dimasa Sunan Gunung Jati
dalam pertempuran dengan kerajaan Galuh, di terjadi pertempuran sengit terjadi
di Lemah Abang di Perbutulan dimana pasukan musuh yang terdesak lolos dan
secara tidak langsung merupakan kemenangan kerajaan Cirebon.
Pada awalnya, permukiman di Perbutulan terdiri atas
beberapa gugus, dari selatan ke utara: Gondang, Kemuneng, Latar Tengah, Ledok,
Keleben, Blok Singrat, dan Pesindangan. Namun kini, semua gugus itu telah
menyatu menjadi satu permukiman. Tak lagi dipisahkan oleh kebun ataupun sawah.
Di Latar Tengah itulah yang merupakan pusat aktivitas: balai desa, sekolah, dan
masjid. Namun kini, balai desa yang berubah menjadi kantor kelurahan telah
dipindah ke Blok Singrat.
Pada masa lalu, warga Perbutulan umumnya
berpendapatan dari kegiatan pertanian. Namun sejak bendungan untuk irigasi di
hulu Sungai Cipager tak dibangun lagi setelah diterjang banjir, maka mata
pencaharian penduduk berpindah ke perdagangan. Kini, kegiatan ekonomi mereka
berpusat pada industri rumah tangga pakaian jadi (konveksi). Namun kini pada
umumnya berubah ke membuat pakaian wanita, terutama busana muslimah.
Warga Perbutulan memeluk agama Islam. Mereka
dikenal sebagai masyarakat santri oleh warga dari desa-desa lain. Di sini
terdapat dua pesantren, yang pertama diasuh oleh Kiai Haji Abdul Jalil, lulusan
pesantren Babakan, Ciwaringin, Yang kedua dikelola oleh Abah Noor Zein, lulusan
Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantrennya bernama
Kampung Damai.
Di Perbutulan, setiap pemilu selalu dimenangkan
partai Islam, termasuk pada masa represif Orde Baru. PPP selalu menang sekitar
90 persen. Pada masa Reformasi ini yang terbesar menjadi PKB, lalu PPP dan
Demokrat. Pada masa Orde Lama, pada pemilu 1955, yang menang adalah Masyumi.
Lalu pada pemilu pertama Orba, yang menang adalah Parmusi. Walaupun secara
kultural mereka adalah nahdliyin (NU), namun Masyumi kuat karena faktor
Aljam'iyatul Washliyah. Organisasi bermazhab Syafii ini, salah satu mazhab
paling kuat di NU, berpusat di Medan, Sumatera Utara. Nah, Washliyah memang
menginduk ke Masyumi, lalu Parmusi.
Al Washliyah memang sangat kuat di Perbutulan
karena di wilayah ini awalnya cuma ada Madrasah Ibtidaiyah Al Washliyah
(setingkat SD). Tak ada sekolah pemerintah. Sehingga hampir seluruh warga
Perbutulan bersekolah di sekolah ini. Namun pada 1976, pemerintah kemudian
mendirikan SD Inpres, di perbatasan Perbutulan-Watubelah. Mengapa diletakkan di
perbatasan? Karena warga menolak yang berbau pemerintah. Ini wajar, karena
mereka memilih PPP setiap pemilu, maka Perbutulan selalu dikucilkan oleh
pemerintah. Namun secara perlahan, warga mulai sadar tentang kualitas sekolah.
Maka walau terletak di perbatasan, banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya
di SD Inpres. Maka tahap selanjutnya dibangun SD Inpres di Ledok, yang berada
relatif di tengah, sebelah barat Latar Tengah. Maka sejak saat itu, mayoritas
anak bersekolah di SD Inpres. Namun MI Al Washliyah tetap hidup dan makin maju.
Bahkan pada 1979 berdiri SMP Al Washliyah, yang tetap kokoh hingga kini. Bahkan
mendirikan TK Al Washliyah, yang merupakan TK terbaik di Sumber.
Perbutulan juga merupakan lokasi shooting film Harmonikaku
serta Matahari-Matahari. Semuanya disutradarai Arifin
C. Noer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar